Berjalan Menyusuri Malam

Malam hampir menjelang dini hari, langit hitam kelam. Tiada bintang yang bertebaran, atau bulan yang bersinar seutuhnya atau hanya secekung sabit, atau pernak-pernik lainnya di langit yang sunyi.

Begal

Ada agetne tiang malajah silat uli cerik. Agetne matumpuk, bapan tiange padidi ane dadi gurunne.

Berbagai Bangunan Kuno di Amerika Based on "(500) Days of Summer" Movie

berikut adalah berbagai bangunan tua yang masih dilestarikan untuk tujuan wisata di amerika. Bangunan-bangunan ini terlihat sangat indah

Cinta Seorang Gadis Cantik

saat matahari berada pada titik tertinggi, tepat di atas kepala. Pada saat itulah aku merasa sangat cemas pada keadaanku. Pada tubuhku yang mulai tak biasa.

Pilih yang Mana: Mencintai atau Dicintai?

Berbicara tentang cinta memang menyenangkan, apalagi jika kita menjadi pelaku di dalamnya. Merasakan cinta adalah anugrah yang diberikan Tuhan pada manusia.

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

Sajak-sajak Putu Gede Pradipta

Musim Tanam

ia tanam benih rindu
pada bilik jantungku
ditancapnya dalam-dalam
meski ini adalah musim
teramat kering
dan ia pun berharap
setulus bagaimana ia berdoa
bahwa bunga pertama nanti
mekar kelopaknya
menetaskan kupu-kupu

2012


Riwayat Buah

sewaktu dahulu
menjadi bunga
wajah ini sungguh
membuat kalian ingin tahu
dan berkunjunglah
para pemilik sayap masuk
meritualkan rahasia hidup
nafas-nafas yang redup
hingga kini kami
menjadi sebentuk buah
menunggu debar dalam hati
kian utuh bertumbuh
lalu memilih hari baik
untuk kemudian tanggal
jatuh mencium tanah
atau di curi tangan kalian
sebelum waktunya

2012


Matahari Dalam Hati

di dalam hatiku ini
ada sebentuk matahari
redup dan tanpa binar
berselimut awan abu-abu
bila engkau masuk
sekedar berkunjung
meluangkan waktu sejenak
telusuri kedalamannya
mungkin saja nanti di sana
bertemu dengan yang kusebut
si matahari itu
maka jangan sekali-kali
atau segan untuk
menyalakan apimu
sebelum hendak menyentuh
apalagi membawanya pulang
ke palung dadamu

2012


Kertas Bercerita

kertas-kertas yang tergenggam
erat di tangan kanan dan kiri
pernah bercerita siapa dirinya
langsung kepada si pemiliknya
bahwa ditubuhnya terbingkai musim 
yang dipenuhi ranum sajak

2012


Pagi Resah

pagi yang meresahkan
sungguh teramat redam
bagiku yang dilanda pilu
langit tak nampak biru
matahari lenyap sembunyi
kicau burung tertelan sepi
awan mendung menebal
hujan cepatlah turun
larutkan bait-bait dukaku
yang lebam biru
mengental batu

2012



Putu Gede Pradipta tinggal di Denpasar. Karya puisinya lebih banyak dipublikasikan di media online dan juga lolos kurasi TSI-4.

Rabu, 07 Desember 2011

3 Puisi Putu Gede Pradipta

Hikayat Kecoa
 
Ia serupa perangkak
Dengan 3 pasang kaki penumpu
Membawa tubuh pipih memanjangnya
Menyusur malam ke malam
Tiada henti
Hanya demi sesuap
Serasah kamboja mati
 
Ia tahu betul
Akan situasi yang menguntungkan
Maka ketika pagi datang
Lenyap sudah
Tiada gelagatnya lagi
 
Dan setiba malam turun
Maka ia bangun dari semadi
Bergerak kembali
Tiada henti
Untuk sekali lagi
Mengincar kamboja mati
 
2011
 
 
Kuningan XXIII
 
Purnama adalah bahasa
Ia jatuhkan mata cahaya
Agar kita tulus mengerti
 
Sekalipun dalam mimpi
Kita yang dilanda gigil
Cahaya tetap sampai
 
Dalam perayaan ini
Banyak doa terberi
Pada si pemilik jagat
 
Di sebuah pelataran pura
Berteman nyala dupa
Dan bunga segala warna
 
Mulailah berkidung sepi
Katakan mengapa kita
Masih percaya pada puisi
 
Mengapa bukan lidah kata
Sekedar gaya ucap makna
Godaan nalar belaka
 
Sebelum dada beku
Dikutuk oleh waktu
Mari melangkah maju
 
Denganku yang berpuisi
Kita merayakan purnama
Menampung semua cahaya
 
15 Juli 2011–16 Juli 2011
 
 
Galungan XXIII
 
Serupa jelujur bambu
yang segera ditancap
di depan gerbang  rumahmu
menghadap arah jalan
 
Begitu mudahnya
ada kedatangan dan kepergian
 
Begitu pula ketergesaan melanda
dengan getar lagu balada
dengan siul layu janurnya
 
Senja memasuki tubuhmu juga
yang tanpa pintu
angin berhembus aku tertembus
aku berikan semesta
memberkati nafas kita berdua
 
Bagaimana kini kau tahu
usahaku yang melengkung
mencapai ketinggian angin
 
Meski limbung
senantiasa juga singgah
merebah di dahan-dahan
 
Langit luas. Langit begitu luas di atas
burung dan hutan di seberang
 
Di sini tanah memeram akar
menyerap petuah kata
menyimpan hujan air mata
 
5 Juli 2011 ̶  6 Juli 2011
 
 
Puisi di atas dimuat di Kompas.com

Kamis, 17 November 2011

Puisi-puisi Putu Gede Pradipta



Kaki Ibu

Lihai sungguh jari-jari kaki ibu
Yang menancapi debu-debu jalan
Hingga matahari yang rebah di tanah
Bangun lewat daun-daun tanaman

Mereka terpanggil oleh hentakan
Gelagat kaki birumu yang merdu
Pun di sebuah pagi yang terlunta
Aku selalu ingin memburu kakimu



Senyum Bunga
 
Senyuman itu bertumbuh
Mekar melebar kemudian

Senyum itu merawat semai
Calon bunting bakal putik



Nyala Dupa

Menyalalah dalam remang sekalipun
Bertanyalah pada siapa cahaya api jatuh
Bila purnama tak nampak bundar lagi



Penunggang Kursi

Beristrirahatlah lelap lebih menunduk
Lepaskan bentuk penat akut dari wajah
Agar tercipta damai di tubuh juga jiwa



Meja, Telur dan Waktu

Sebelum meja ini patut dikosongkan
Letakan semua di sini setiap telur itu
Sebab lelah sudah waktu memeramnya



Hidup Si Babi

Hiduplah dengan perut makin buncit
Resaplah segala bentuk petuah kata
Jadikan diri segunduk tahi setelahnya


 Karya puisinya termuat di media online dan juga berkesempatan lolos kurasi TSI 4.

Minggu, 14 Agustus 2011

Puisi-puisi Mohamat Firmandaru


 












Wis Ning

Ning sudahlah
Ibu Bapakmu benar
Jangankan mereka
Mungkin Tuhanpun tak percaya
Aku seorang penyair..

MF 2011



Beethoven

Beethoven,
Kau dengarkah ?
Ketika Tuli
Maut pun memanggil-manggil namamu

Seperti simfoni untuk elise ( fur elise )
Kau menangis,
Kau menangis
Ia menolak cintamu
Maut menolak rintihmu...

MF 2011



Bait – Bait Malam

Malam - malamku yang ganjil
Kutuliskan pada bait - baitku yang gigil...

Menghitung rintik hujan yang jatuh
Meski hanya sampai adzan subuh
Jiwaku merasa teduh,
Berlabuh 


Bohlam menggantung di dahan akasia tua
Diayun angin
Pijarnya menentang kelam dan dingin
Perkasa !


Aku bersaksi pada kesepianku sendiri
Malam merindukan
Malam membenci
Rindu dendam ini
Haruskah Abadi ?


MF 2011



Istirah Terakhir Seorang Penyair

; Alm. Pak Asep Sambodja

Mendesir jiwaku di atas makam-makam berpasir
Istirah terakhir seorang penyair ...

Tak selamanya tangan ini menulis puisi
Ada saatnya nanti berhenti
Bukan karena letih apalagi sekedar demam tinggi
Ada perjalanan gelisah yang lebih suci
Harus dilalui seseorang sendiri
Seperti kelahiran sebuah puisi
Dari sunyi kembali kesunyi,
Abadi..

MF 2011



Keteguhan Lamarela

Koteklema-koteklema menari-nari
Baleo ! baleo ! perahu mengapung, ombak mengepung
Seorang lelaki berdiri di ujung
Tuhan di langit Lembata restui kami

Lonceng Gereja bertalu-talu
Darah, darah menggenang di tubuh
Tiga ekor koteklema mati kaku
Satu anak, ayah dan ibu

Jalan kehidupan
Dalam keteguhanmu,
Lamarela...

Keterangan :
Lamarela sebuah wilayah di pulau Lembata, NTT yg terkenal dg perburuan ikan paus
Koteklema sebutan ikan paus
Baleo riuh suara penduduk ketika melihat ikan paus

MF 2011


Selasa, 19 Juli 2011

Puisi-puisi Dieqy Hasbi Widhana




Pergilah Bersama Senja

senja tergelincir tenggelam dalam badai
cahayanya tertelan tanah membelah tenang
tinggalah aspal keremangan yang retak dimanamana
endapan coretancoretan itu berbincangbincang dalam penjara

dia berlari melompati tenggorokan berdahak mimpi
berenang membelah gerimis rimba pekat
lalu dia lemparkan bukitbukit masa lalu
agar tenggelam bersama bunga senja

tawanya berdansa-dansa
bebaslah janinjanin tanpa gembala
: ribuan antrian menawar senja berikutnya

senja itu pelupa,
16022011


Hari Ini Terbungkus Kemarin Hari

diikatnya masa indah bernama kenangan
ukiran garam yang tak hilang bersama senja
aroma bawang melilit mata hati menyisir musim
direndam nyawanya pada danau senja gulita
dipeluknya bola mata dalam dekapan air mata
pelarian dua belas masa tak puas mengadu pada mata air

14022010


Tetesan Ombak untuk Ayah

ayah, kemarin setelah esok aku singgah di gubukmu
lukisan kiasan itu penuh sesak melebihi jumlah lantai
tapi jangan kuatir,
aku pandai berjalan tanpa merusak lukisanmu

tepat di atas pelipis jendela
sang lukisan tertua menjamuku
di awal, ia mencuri perhatian dengan bernyanyi
nyanian miris itu menggesek pelan urat jantungku
bagai tangkai biola terikat senar musim penghujan

diamdiam ia bercerita pada diri aku
perlahan aku mampu meraba terjemahan jiwanya
pertukaran alam pikiran tanpa kata itu mengheningkan gelisahku

tanpa dugaan sebelumnya,
tumbuh melesat tegar masalalu dalam gelas pikiranku
perihal dirimu yang terlempar dari sirip mentari
setelah bellibis membantingmu,
kau berusaha menopang tubuh remuk dari aduh setelah terjatuh

entahlah apa guna diri aku ini, yah
tetesan tangis berlumur gelisah ini tak mampu sedikit pun mengobati aduhmu
biarlah tetesan itu bercerita tentang diri ringkih ini
perihal perjalanan berkembang, berjalan yang maju ke belakang

tegalboto,
03252011


Istana Rahasia untuk Sang Putri Raja

Setelah pertemuan guntur pagi itu
Kini aku meringkuk lumat berpayung tangis

Apalah yang kupersembahkan pada sang tuan
Jangankan memasak tanah demi muntahan harta
Memasung seraut jerami di punggung pun aku tak mampu
Pantaslah sang tuang merangkumku dalam jala
Yang ia sulam dari ludahnya sendiri

Aku bernama pemuda yang terlalu muda
Lantas,
Apalah arti nama jika masih siam dengan janin

Barangkali kau sudah tau wahai kekasihku
Perihal petanda yang terlelap menyelimuti sang tanda
Lewat kata sutra, dalam bualan nada
Kau pasti tau, aku yakin itu
Walaupun penuh sesak tertimang kemiskinan kata

Aku sengaja melupa perihal sejarah yang merambat itu
Beberapa tetes angka kejayaan silam
Biarlah kugali sendiri kuburnya
Kupendam dalam gumpalan ombak yang meriba

Aku kua ku..
Hanya ingin menarikmu jauh dari ledakan yang manja
Rentetan letupan yang semestinya kau artikan tanpa makna

Jangan angan jangan mau terpacu cemas
Kemarilah dan hidari kerumunan yang bagiku tak sedap
Percayalah padaku, istana termegah hanya ada
Di setiap kita..

Tegalboto,
03232011


Nyata Itu Mimpi, Mimpi Itu Nyata

kawan, semalam aku berjumpa kekasihmu dalam rindang mimpi
berderet puluhan kata ganti ketika kau menceritakannya
segala kelam tentangnya lurus berjalan menuju
tumpukan sampah sebelum dibuang
sampai dia meleleh menyelinap padaku
tanpa sadar aku pun ikut mencintainya
walaupun tak sekali pun bertemu mengenalnya
entahlah kita jatuh cinta pada satu tanpa cemburu

sayang sekali tak sempatku bercakap dengannya
asap knalpot menamparku geram
bersamaan deru mesin menyeretku
paksa menghindar diantara tarian mimpi
rasanya seperti ada setrum menancap di sela hati
melintasi dua alam terlalu cepat membuatku mabuk

aku tak sempat tanya tentang kabarnya
aku tak tau bagaimana bentuknya
hanya saja bulat yakinku jika dia kekasihmu
hanya saja bulat yakinku jika senyum cerahnya menyambutku

apa dia tidak mendengar,
kupanggilnya lewat puluhan nama itu setiap pagi

kawan, aku sedang bermimpi di alam mimpi
bagaimana kabarmu di sana?
entahlah aku harus melewati berapa ratus bilik mimpi
sebelum bertemu denganmu lagi

kereta surabaya,
27022009


Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Unej



Jumat, 01 Juli 2011

SURAT KECIL UNTUK TUHAN


Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.

Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku,
terjadi pada orang lain.

Tuhan…
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-Mu

Tuhan…
Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu

Tuhan…
Biarkanlah aku dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya..

Tuhan…
Izinkanlah rambutku kembali tumbuh, agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya.

Tuhan…
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi
Agar aku bisa memberikan kebahagiaan
kepada ayah dan sahabat-sahabatku

Tuhan…
Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa
Agar aku bisa memberikan arti hidup
kepada siapapun yang mengenalku..

Tuhan ..
Surat kecil-ku ini
adalah surat terakhir dalam hidupku
Andai aku bisa kembali…

Ke dunia yang Kau berikan padaku..

In memorial


Gita Sesa Wanda Cantika

dikutip dari sebuah novel

Rabu, 22 Juni 2011

SAJAK-SAJAK JHODY M ADROWI

TIDAK HANYA KALI INI

Setiap berkas cerita yang ternahkoda dalam senyap
Seperti ada
Antara pajangan lampu-lampu kecil yang padam
Senada mimpi dalam cerita
Berharap sungkem yang terlambai dalam lakon penjara
Mampukah ini seperti yang telah terikat
Tertebar dalam hanyut yang terbusung di tanah leluhur
Tidak
Kali ini saja
Coretan tinta ini menandai bola mata terbelalak
Menyeka lirih yang beruntun
Ada sisa
Seperti cerita
Terbungkus rapat dedaunan.

Yogyakarta, 2011



AKU DALAM MALAM

Masih mampu kaki ini mengayuh cerita yang terpendam
Seperti hela dalam ruang yang pengap
Terapit sempit yang semestinya
Tak ada keraguan
Terpintal antara suara-suara kecil di sudut tanah yang basah
Ada yang sengaja dicipta
Atau masih tersimpan dalam peti yang terbaris dari ruas jari
Seumpama ronta
Antara ikatan dan umpama
Ada harap
Sisakan yakin antara diri yang serasa kalah
Dari penciptaan ini
Aku sandarkan
Ribuan tanya tentang apa yang telah hilang
Tak mampu sepi ini beralasan dalam semedi yang baru tertutur.

Yogyakarta, 2011



SEMAMPU LANGIT

Berdiri dengan cagak bendera yang karat
Kibarkan aroma
Aroma
Tersemai lirih di tengah tanda waktu yang masih menuai silsilah langit
Ada tirai
Tirai kehangatan yang tersimpul
Membeku
Simpul silah kecilku yang lirih
Aku hanya mampu merunduk meski ingin meninggi seperti langit
Tak ingin lupa pada jejak kaki yang sempat tersemat
Dan telah tercatat di jantung langit
Aku rindukan ini
Seperti saat aku menceritakan masa-masaku dulu
Masa yang sempat terbuang
Dan terikat kembali di kaki langit

Yogyakarta, 2011



RINDU DO’A-MU

Salam dari kesendirian
Semampu jamah ruas jari yang mengapit malaikat antara istijabah
Tuntunkan ingin
Yang hadir di sudut senja dan pagi
Di sanalah
Dulu ada rangkaian pemujaan
Berdasar dari lembut air yang mendanau di wajah lembutmu
Aku
Yang tegak mampu berlutut
Dalam pintalan ridla yang asing
Sembab
Mengkarat dalam ikrar persujudan
Tak ingin berangsur diam
Hingga kelana menakdirkan aku berdiri di kota yang wangi dengan cerita-cerita
Mulailah aku tersungkur
Bahkan
Dengan sengaja aku benturkan kepalaku
Muncratlah darah dan nanah ini
Ranggaskan tubuh dan pelataran nurani
Hingga tak ingin ku bungkam kembali
Ingin kembali mengepak suci dari aliran air yang mengalir di sela jari kakimu
Aku ingin kembali
Berselimut kain halus dari belai tanganmu

Yogyakarta, 2011


(hak cipta ada pada penulis, diharapkan mencantumkan nama penulis bila ingin menyimpan ataupun menyebarluaskan karya di atas dalam bentuk apapun)

Sabtu, 18 Juni 2011

RINTIHAN SEORANG PENYENDIRI

Oleh : Rastu Karyana
 
 
Hari ini aku diam saja
Memperhatikan seekor semut berjalan diatas meja itu
Mereka sudah pergi
Hanya aku ditemani senyapnya rumah ini
Ingin kunyalakan musik itu
Ingin kubakar rokok yang tersisa empat batang itu
Tapi aku memilih diam
Menikmati waktuku dengan diriku
Ragaku masih ditempat ini
Aku melihatnya dari atas
Terbang melayang memandang bumi dari cakrawala
Betapa kecilnya aku
Aku kemudian berlari
Secepat cahaya melintasi waktu
Melihat dunia yang telah kulewati
Merasakan hangatnya persahabatan, dinginnya penolakan, kerasnya aku berlari
Aku menikmati waktu yang langka ini
Sementara tubuhku masih disini
Memperhatikan meja itu
Dan sang semut yang telah jauh dari pandangan

Jumat, 03 Juni 2011

Perjalanan Ini




















Perjalanan ini membawaku pada sebuah asa
Menemukan cinta sejati
Ketika semilir angin menghembus padang rumput hijau
Dan kuas biru membentang diatasku
Aku tidak akan menyesal berada disini
Bersamamu…

Diatas sini aku bisa melihat semuanya
Melihat betapa tinggi aku mendaki
Sembari berpikir aku tidak akan mencapainya
Bahwa aku kehilangan arah
Namun bayangan itu tetap menyinariku
Aku tidak tahu engkau siapa
Tapi aku yakin kau telah menantiku
Dan pengorbanan ini tidak akan sia-sia

Perjalanan ini membawaku kepadamu
Waktu terhidup dalam hidupku
semilir angin yang menerbangkan rambutmu
tidak menutupi tatapan teduhmu
yang menyambutku
melepaskanku sejenak dari gravitasi
kuharap jam berjalan lebih lambat
kuharap surya tidak tenggelam
sebelum akhirnya aku mampu melepaskanmu

Oleh : Rastu Karyana

Senin, 09 Mei 2011

Jalan Angin

Oleh : Ilham Wahyudi

apa mesti mengetuk sebelum masuk?
tentu, kata pintu
tapi tidak kata angin
sebab angin tak mengenal pintu
sebab pintu memiliki lubang
maka, setiap lubang adalah jalan angin
jalan yang selalu berdoa
agar tak masuk kunci yang lain ke liang lubangnya

2011

Jumat, 29 April 2011

Entah di Mana

Oleh : I Putu Gede Pradipta







 








di mana lagi kejujuran akan kutemui
setelah bangku-bangku kuliah,
mengecoh nalarku. buku-buku hanya
sekutu pengetahuan yang dikejar
bukan ingin dimaknai mendalam apalagi
sungguh-sungguh disimpan dalam kepala
ini wujud manusia biasa di zaman sekarang
setidaknya mata kalian bercerita demikian
setidaknya tangan kalian kerap ingkar
setidaknya tuhan kita selalu mengijinkan

di mana lagi kejujuran akan kutemui
isi kepala sebatas gumam usang keinginan
mata bocah terbakar dalam lembar sejarah
malam-malam ke depan akan tambah sesat
bau keringat mengudar aroma kematian
tak lagi suara serangga menangisi kita
sebab siapa peduli tentang kehidupan
puisi dijadikan topeng pemikat para gadis
yang isinya hanya keinginan dan keinginan
nanti juga diterbangkan kupu-kupu ke awan

di mana lagi kejujuran bisa ditemui?
di mata bening atau dalam doa hening
mungkin kalian berlari menempuh jalannya
sebab kini hanya aku yang setia mengukur arah

April 2011