Berjalan Menyusuri Malam

Malam hampir menjelang dini hari, langit hitam kelam. Tiada bintang yang bertebaran, atau bulan yang bersinar seutuhnya atau hanya secekung sabit, atau pernak-pernik lainnya di langit yang sunyi.

Begal

Ada agetne tiang malajah silat uli cerik. Agetne matumpuk, bapan tiange padidi ane dadi gurunne.

Berbagai Bangunan Kuno di Amerika Based on "(500) Days of Summer" Movie

berikut adalah berbagai bangunan tua yang masih dilestarikan untuk tujuan wisata di amerika. Bangunan-bangunan ini terlihat sangat indah

Cinta Seorang Gadis Cantik

saat matahari berada pada titik tertinggi, tepat di atas kepala. Pada saat itulah aku merasa sangat cemas pada keadaanku. Pada tubuhku yang mulai tak biasa.

Pilih yang Mana: Mencintai atau Dicintai?

Berbicara tentang cinta memang menyenangkan, apalagi jika kita menjadi pelaku di dalamnya. Merasakan cinta adalah anugrah yang diberikan Tuhan pada manusia.

Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2011

Berbagai Bangunan Kuno di Amerika Based on "(500) Days of Summer" Movie

berikut adalah berbagai bangunan tua yang masih dilestarikan untuk tujuan wisata di amerika. bangunan-bangunan ini terlihat sangat indah pada film (500) days of summer. film yang menceritakan tentang seorang pria lulusan arsitektur yang stuck di perusahaan pembuatan kartu ucapan yang mengira menemukan pendamping hidupnya. saksikan filmnya dan nikmati pemandangan bangunan-bangunan tua yang kokoh dan unik yang merupakan refleksi dari jamannya.


Fine arts building
fine arts building terlihat pada scene tom memperlihatkan pada summer, tempat favoritnya saat sedang berkencan. pada film diperlihatkan bagian bangunan dari sisi bawah yang terkesan menunjukkan kemegahan. juga dikenal sebagai Gedung Studebaker, adalah bangunan kuno yang terletak di Michigan Avenue, seberang Grant Park di Chicago daerah Chicago Michigan Boulevard Historic Landmark District. Bangunan ini dibangun untuk perusahaan Studebaker di 1884-5 oleh Solon Spencer Beman, dan direnovasi serta penambahan fitur motif interior art nouveau dan mural cantik yang berasal dari renovasi tahun 1898. Sesuai dengan namanya, merupakan bangunan yang penuh dengan karya  seniman, galeri seni, teater, tari dan studio rekaman, perusahaan desain interior, pembuat alat musik, dan bisnis lain yang terkait dengan seni. Didalamnya juga terdapat kantor Putri Revolusi Amerika, Jazz Institute of Chicago, Grant Park Conservancy, World Federalist Association, Chicago Youth Symphony, Boitsov Klasik Ballet School dan berbagai perusahaan lainnya. Bangunan ini dinyatakan bagian dari Landmark Chicago pada 7 Juni 1978.


Metropolitan tower
bangunan ini diperlihatkan tom pada summer saat duduk di tempat favoritnya dimana ia bisa melihat berbagai bangunan kuno. bersamaan dengan bangunan continental, tom menunjukkan betapa indahnya tempat itu (kecuali lapangan parkirnya :) .
bangunan iniDirancang oleh Graham, Anderson, Probst & White, Menara Metropolitan awalnya bernama Gedung Straus saat selesai pada tahun 1924. Meskipun itu adalah bangunan pertama di Chicago dengan 30 atau lebih lantai, bangunan ini tidak pernah secara resmi dikukuhkan sebagai bangunan tertinggi di Chicago karena bersamaan dengan Chicago temple building yang juga selesai pada tahun 1924 dengan ketinggian yang lebih tinggi walaupun memiliki tujuh lantai yang lebih sedikit.

Angelus plaza
angelus plaza tidak terlihat pada film ini, tetapi sempat disebutkan pada akhir film. dikatakan tempat ini merupakan tempat favorit tom.
Angelus Plaza adalah komunitas perumahan terbesar yang terjangkau oleh orang lanjut usia di US. Angelus Plaza dan Pusat Agape, pusat kegiatan senior, dibuka pada tahun 1980. Angelus Plaza terletak di jantung pusat kota Los Angeles (Bunker Hill), dekat Penerbangan Angel, Grand Central Market, California Plaza, Disney Concert Hall, dan pusat music Los Angeles

Angulus plaza terdiri dari 1093 kamar apartemen dengan berbagai macam fasilitas. Disana terdapat kantor yang menawarkan layanan administrasi dan semacamnya untuk para penghuninya. Berbagai program pelatihan, pendidikan, kesehatan, pertukaran budaya, bahkan layanan supermarket dan kecantikan juga disediakan oleh apartemen ini.

Continental building
gedung continental bisa dikatakan merupakan bangunan tema pada film ini, terlihat pada ilustrasi hitungan hari pada film ini.

Gedung Continental setinggi 46 m, memiliki 13 lantai terletak di perumahan di south spring street tempat Bersejarah di Los Angeles, California. Continental building selesai pada tahun 1903, merupakan bangunan tertinggi yang pertama di kota los angeles yang bertahan selama tiga tahun.
Gedung Continental terdaftar sebagai Daftar Tempat Bersejarah nasional.

Bradbury building
gedung bradbury merupakan tempat tom melakukan interviewnya untuk mencari pekerjaan sebagai arsitek pada bagian akhir film. pada film diperlihatkan bagian dalam bangunan ini, lengkap dengan liftnya dan arsitektur dari besinya yang unik.
Gedung Bradbury merupakan bangunan arsitektur tinggi di Los Angeles, California. Bangunan ini dibangun pada tahun 1893 dan terletak di 304 South Broadway di pusat kota.
Bangunan ini digagas oleh Lewis L. Bradbury (November 6, 1823-15 Juli 1892) seorang jutawan pemilik pertambangan bernama Tajo di Sinaloa,Meksiko yang menjadi seorang pengembang real estate pada saat-saat akhir hidupnya [4]. Ia berencana pada tahun 1892 untuk membangun gedung lima lantai di Broadway dan Third Street di Los Angeles, dekat dengan lingkungan Bunker Hill.
Seorang arsitek lokal, Sumner Hunt, pertama kali dipekerjakan untuk menyelesaikan desain untuk gedung, tapi diberhentikan oleh bradbury karena rencana Hunt dianggap kurang memenuhi visi kemegahan gedung yang diinginkannya. Bradbury kemudian menyewa George Wyman, salah satu draftsmen Hunt, untuk desain bangunan.

Wyman pada awalnya menolak tawaran tersebut, tetapi kemudian menerimanya karena mengklaim telah berbicara hantu dengan saudaranya Mark Wyman (yang telah meninggal enam tahun sebelumnya), ketika mengambil papan Papan kayu dengan istrinya. Pesan hantu tersebut  "Mark Wyman / mengambil / Bradbury gedung / dan Anda akan menjadi / sukses" dengan kata "sukses" ditulis terbalik..
berbagai film menggunakan tempat ini sebagai salah satu scenenya. Begitupula pada beberapa permainan computer dan komik yang terinspirasi oleh keunikan bangunan ini.

Sabtu, 18 Juni 2011

Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree



Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak ,, Georgia , Amerika.

Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik,sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya.

Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Diasering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kotabesar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru.

Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru.Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling,drug. Dia menikmati semuanya. Bulan berlalu. Tahun berlalu.Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang.

Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara. Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya.

Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali.

Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, “Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku.Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kaunyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”

Akhirnya hari pelepasannya tiba.

Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak,jalan pelan-pelan. ..kita mesti lihat apa yang akan terjadi…” Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya.

Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetes di matanya… Dia tidak melihat sehelai pita kuning… Tidak ada sehelai pita kuning….Tidak ada sehelai….. . Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning…. bergantungan di pohon beringin itu…Ooh… seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning…!!!!!!!!!!!!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon suratkabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree“, dan ketika album ini di rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973
 
lirik lagu :

"Tie a ribbon round the ole oak tree"

Im comin home, Ive done my time,
Now Ive got to know what is and isnt mine,
If you received my letter,
Tellin you Id soon be free,
Then youll know just what to do,
If you still want me . . .

If you still want me . . .

Tie a yellow ribbon round the ole oak tree,
Its been three long years,
Do you still want me ? ( still want me ? )
If I dont see a ribbon round the ole oak tree,
Ill stay on the bus, forget about us,
Put the blame on me . . .

If I dont see a yellow ribbon around the ole oak tree . . .

Bus driver please look for me,
cause I couldnt bear to see what I might see,
Im really still in prison,
And my love, she holds the key,
Simple yella ribbons, what I need to set me free . . .

I wrote and told her please . . .

Tie a yellow ribbon round the ole oak tree,
Its been three long years,
Do you still want me ? ( still want me ? )
If I dont see a ribbon round the ole oak tree,
Ill stay on the bus, forget about us,
Put the blame on me . . .

If I dont see a yellow ribbon round the ole oak tree . . .

Tie a yellow ribbon round the ole oak tree,
. . . three long years,
. . . still want me ?
And now the whole damn bus is cheerin
And I cant believe I see . . .

A hundred yellow ribbons round the ole . . .
The ole oak tree!

Tie a ribbon round the ole oak tree,
Tie a ribbon round the ole oak tree,
Tie a ribbon round the ole oak tree . . .
 
Download Lagu :

http://www.4shared.com/file/127047392/11c177e5/TIE_A_YELLOW_RIBBON_AROUND_THE_OLD_OAK_TREE.html?s=1

Senin, 23 Mei 2011

Makna dibalik kekuasaan

Kelompok 78 yang sebelumnya dianggap berpihak pada rakyat kini kehilangan arah dengan ngotot mengusung George dan Arifin Panigoro menjadi bakal calon ketua PSSI walaupun telah ditolak oleh FIFA. Tindakan ini membuat PSSI terancam terkena sanksi dari FIFA dan pastinya akan merugikan persepakbolaan Indonesia. Patut dipertanyakan tujuan dari kelompok 78 yang menyimpang dari cita-cita rakyat untuk memajukan sepakbola Indonesia. Kisruh yang kelompok 78 pada kongres PSSI ini mengingatkan kita kembali betapa serakahnya manusia akan kekuasaan.
Kekuasaan (authority) adalah suatu kemampuan untuk mengontrol lingkungan, termasuk kelakuan orang lain dalam sebuah struktur sosial (wikipedia). Tipe Kekuasaan menurut JK Gilbraith dalam anatomy of power yaitu Condign (diperoleh dengan kekuatan), compensatory (diperoleh dari sumber daya yang dia punyai), condition (diperoleh dari kemampuannya dalam mempersuasi) sebagai hasil dari apa yang dia punyai yaitu karakteristik individualnya (personality), apa yang dia punya (sumber materi), dan kedudukannya dalam sosial (organizational).
Dalam sistem demokrasi Indonesia, kekuasaan diperoleh dengan kesepakatan bersama rakyat atau perwakilan. Artinya kekuasaan diperoleh dengan cara meyakinkan (mempersuasi rakyat untuk memilih dirinya atau kelompoknya). presiden dipilih rakyat berdasarkan voting. Bahwasanya presiden dan perangkatnya bukanlah penguasa sebenarnya dalam suatu negara. Mereka adalah representatif rakyat yang “bekerja” untuk mengontrol agar cita-cita suatu negara dapat terwujud. Bahkan jika kita menelusuri asal nama dari menteri, atau ministry dalam bahasa inggris yang artinya pelayan, dan presiden sebagai kepala menteri atau “kepala pelayan” maka jelaslah sudah kedudukan dari perangkat pemerintahan tersebut. Tugas berat dipikul oleh perangkat pemerintah dalam mengontrol negeri yang besar seperti Indonesia yang terdiri dari berbagai kepala yang berbeda ras, suku bangsa dan kepercayaan.
Lalu kenapa kekuasaan diperebutkan kalau kita tahu begitu beratnya tugas yang dipikul? Hal itulah yang masih diperjuangkan oleh bangsa Indonesia saat ini. Besarnya beban kerja menuntut suatu kemudahan dalam memfasilitasi kerja perangkat pemerintahan ini. Kantor yang bagus, mobil yang mewah, studi banding ke luar negeri, penyediaan alat adalah wewenang atau hak dari para kepala pemerintahan. Fasilitas dari uang rakyat inilah yang pada akhirnya memanjakan mereka. Belum lagi kemampuan mengontrol orang menyebabkan rasa haus orang untuk “menjadi penting” membuat orang seperti nurdin halid mati-matian mempertahankan kekuasaannya. Manusia menjadi buta akan nafsunya.
Lalu bagaimana agar kita menyadarkan orang-orang itu bahwa tindakan mereka itu keluar jalur?
Tidak akan bisa. Kita tidak akan bisa mengubah orang lain. Mengubah orang lain berarti mencederai apa yang mereka yakini, mereka mungkin akan berkata saya turun, tapi mereka tidak akan menyesalinya. Contoh kasus PSSI, Nurdin Halid tidak akan mau mundur sampai ada tindakan dari FIFA walaupun dia dibenci satu Indonesia. tanyakan hal yang sama pada kelompok 78, ariel peterpan, Nassarudin, atau Boediono.
Telah dikatakan bahwa kekuasaan tertinggi bukan pada presiden atau perangkat menterinya, kekuasaan tertinggi ada pada RAKYAT. Rakyatlah yang mengusir penjajah, rakyat-lah yang menggulingkan rezim soeharto. Bahwa Rakyatlah yang memiliki kekuasaan menggerakkan negara ini, bukan sekelompok orang tersebut. Cita-cita bangsa yang menjadi inti dari suatu negara dapat diwujudkan oleh rakyat terutama kaum muda. Cara yang terbaik adalah dengan meningkatkan jiwa nasionalisme. Meningkatkan kemampuan yang kita punya dan mempersembahkannya untuk negara. Malu untuk mencederai negara ini dengan korupsi, kolusi. Memperoleh “rasa penting” dengan menikmati kita berada dalam satu jalur menuju keberhasilan pembangunan dan berkata pada diri sendiri, “oh lihat yang sudah saya lakukan sekarang dan sebelumnya dan apa yang akan saya lakukan nanti”. Bukankah itu suatu kemampuan yang kita idamkan, kekuasaan atas diri dan akhirnya kekuasaan atas menentukan kemana arah negeri ini akan berjalan. Bukanlah kekuasaan yang diperoleh dengan kotor dan berdiri dibawah orang yang telah kita cederai.


Oleh : Rastu Karyana

Minggu, 15 Mei 2011

Penyesalan Seorang Imam

Ketika saya kecil, dimana saya masih memiliki mimpi yang besar dan tidak terhalang tembok apapun, saya bercita-cita untuk mengubah dunia yang saya tempati ini menjadi lebih baik.
Ketika saya beranjak remaja, saya menyadari bahwa mimpi itu terlalu besar, saya mengecilkan mimpi saya untuk mengubah negara saya yang kacau ini menjadi negara yang damai untuk ditempati..
Ketika saya dewasa dan mengetahui kerasnya hidup, saya menyadari betapa tebal tembok yang saya hadapi, saya mengecilkan mimpi saya untuk mengubah lingkungan tempat saya tinggali ini.
Ketika saya menjadi tua dan mulai hanya menyaksikan orang muda bergerak, tak satupun lingkungan saya bergerak. saya menyerah dan memutuskan untuk mengubah keluarga saya menjadi pribadi yang lebih baik
Bahkan sampai menjelang ajal saya pun, saya tidak mampu untuk mengubah orang-orang terdekat saya. apa yang terjadi? Begitu keraskah hidup?
Kemudian ketika sore menjelang dan otak saya telah muak dengan kehidupan saya mulai menyadari kehidupan telah menampar saya. seandainya saja saya mengubah diri saya terlebih dahulu, tentu saya akan menjadi lebih baik dan lebih kuat. Keluarga dan orang-orang terdekat saya akan melihat dan siapa tau mereka akan mencontoh perbuatan baik saya. dengan dukungan mereka saya dapat mengubah lingkungan saya dengan cara yang arif. Dan tentu saja dengan kontribusi saya pada lingkungan, saya dengan dukungan keluarga dan masyarakat dapat menonjolkan daerah saya. organisasi saya menjadi lebih besar dan bermakna bagi negara saya. dan pada suatu waktu dalam hidup saya, siapa tahu dengan kerja keras dan dukungan mereka yang begitu menghargai kerja keras saya, saya dapat memberi sesuatu pada dunia ini. Hidup saya menjadi inspirasi.
Tapi apa daya, waktu saya sudah habis.


 
Oleh : Rastu Karyana
(Dikutip dari batu nisan seorang imam Anglikan di Westminster Abby (1100 SM)

Kamis, 05 Mei 2011

Puisi dan Sebuah Selera

Oleh I Putu Gede Pradipta

shutterstock

Sedikit agak lancang mungkin bila penulis sampaikan ini, berupa kata-kata yang akan tersusun jadi sekian kalimat berbadan tiap paragraf. Apalagi tentang sesuatu yang agak asing dan sungguh saya tak ingin dan tak berani berlebihan dalam menuliskannya. Tapi ijinkan saya mencoba mengurainya perlahan, dengan cara saya yang sederhana (mungkin).

Saya mencoba mengulas tentang puisi dari perspektif saya sendiri. Saya nantinya akan menukik secara subjektif, tentang yang saya rasakan bagaimana mengartikan “puisi dan sebuah selera” seperti judul yang saya gunakan untuk tulisan yang lebih menyerupai catatan ini.

Walau puisi dunia asing, seperti yang ditulis Damhuri Muhammad, tetapi sesungguhnya kita tak boleh menyangkal dengan mengatakan kalau kita tak kenal dengan puisi. Saya yakin tentang hal ini dan tak ragu. Kenapa? Alasan sederhananya adalah, karena puisi telah menjadi bahasan kita (dalam cakupan relatif) mulai dari duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah. Apalagi bagi yang memilih spesifikasi jurusan sastra di perguruan tinggi.

Lalu, apakah dengan begitu kita semua paham dengan puisi? Misalnya saja, kita disodori sebuah puisi berjudul “Aku” karya Chairil Anwar ke hadapan kita, kemudian kita ditanya, “Apa maksud puisi ini? Atau apa yang bisa anda tangkap dari puisi ini?”

Dari sekian pertanyaan yang sama dilontarkan ke sekian orang, apa yang akan dijawab oleh mereka? Yang saya ingin tahu bukan sekedar ketepatan jawaban mereka masing-masing tentang puisi yang disodorkan itu karena saya sendiri pun tak akan bisa menakar ketepatan maksud puisi karya Chairil Anwar itu bila saya sebagai orang yang menyodorkan pertanyaan itu kepada anda-anda.

Tapi coba kita perhatikan dengan perlahan dan seksama, ada sesuatu yang bisa kita cerna dan mungkin akan luput bila tak awas memperhatikannya. Apa itu? Sesuatu yang menjadi muatan di setiap jawaban yang disampikan oleh mereka (anda-anda). Ya, selera. Ada muatan selera di tiap jawaban yang akan mereka luncurkan untuk menanggapi puisi tersebut.

Selera itu sendiri kembali bergantung atau selaras dengan subjek si pemiliknya. Selera tiap orang tak bisa disamakan apalagi sengaja diseragamkan. Dan untuk selera ini cukup memiliki porsi penting dalam sebuah pemaknaan puisi.

Tapi yang perlu diwaspadai bagi para penyair, jangan sampai karena selera yang subjektif ini sampai membuat si penulis puisi merasa risih dan mandeg menulis kembali hanya karena puisinya tak mendapat respon positif dari pembaca. Sebuah puisi ketika dipublikasikan, sudah bisa dikatakan tidak saja milik penyairnya tetapi menjadi bagian dari pembacanya, bagian dari sekitarnya, bahkan milik bersama! (*)

Denpasar, 5-4-2011